Mungkin kebanyakan orang hanya menonton anime sebagai sarana hiburan dan refleksi akan kepenatan dunia yang semakin hari semakin berengsek. Ada beberapa teman dan mungkin juga saya setia menonton anime karena memiliki banyak “waifu” atau “husbu” yang mestinya masuk ke dalam pikiran setiap kali melihatnya dalam situs anime bajakan. Tiada hari tanpa memikirkan sang waifu dan husbu yang jikalau bisa jadi nyata, pastinya tidak sudi melihat wajah kita yang super kentang.
Ah, ya. Itu semua hanyalah anime dalam sudut pandang paling “mainstream”. Tulisan ini akan menawarkan Anda untuk menjelajahi anime dalam sudut pandang paling “marjinal” dari yang lain. Mari menjelajah dunia anime dengan pikiran ini bersama-sama, ya, onii dan onee-chan!—maaf kalau bahasa Jepunnya salah euy, cuma asal nulis itu, jangan bully aku. ༎ຶ‿༎ຶ
“Ah, ngasal ni yang nulis, mana bisa anime dijadiin alat propaganda dan kontrol sosial!”, kata para penonton anime bajakan yang nontonnya cuma Boruto sama anime arus utama lainnya. Pada nyatanya, anime memanglah bisa menjadi alat untuk mengagitasi dan menyebarkan propaganda jika sang pengarang cerita anime itu punya tujuan tertentu—bahkan walau tidak punya sama sekali—untuk menciptakan perubahan sosial atau mungkin kontrol sosial.
Terlebih, anime adalah karya sastra yang merupakan refleksi keadaan sosial dan kebudayaan masyarakat di Jepang, sehingga dianggap sebagai media penyebarluasan budaya populer Jepang dengan membawa nilai moral, sosial, budaya sampai dengan isu gender di dalamnya.
Jika anime dapat dijadikan media penyebarluasan budaya populer, maka besar kemungkinan dapat dijadikan alat untuk kontrol sosial dan penyebaran propaganda; entah untuk tujuan pribadi pengarang cerita dan animator, entah untuk tujuan sebuah kelompok/organisasi tertentu.
Sekalipun anime banyak digarap oleh studio kapital, tetap saja yang mereka pedulikan hanyalah uang dan kondisi emosional penonton. Mereka tidak akan peduli dengan “diselipkannya” serangkaian propaganda dan agitasi di sela-sela cerita yang justru dapat menghancurkan mereka di hari nanti, asalkan alur ceritanya dapat disukai banyak orang, pasti mereka gas ae lah garap, asal duit ngalir dan penonton tetap setia, bos!
Sebagai contoh, anime “The Leader” yang menceritakan kehidupan Karl Marx dan manifesto komunisme, dapat memengaruhi banyak orang sehingga mereka berpikir untuk “mengambil alih alat produksi” dan mereka sadar tentang perjuangan kelas yang belum selesai sampai sekarang. Sehingga mereka dapat membahayakan posisi kekuasaan para kapital, ya, jika mereka melakukan aksi langsung, tentunya. Tapi dengan adanya pemikiran itu dalam kepala mereka, maka telah tertanam bibit-bibit Marxisme yang mungkin dapat tumbuh meledak suatu hari nanti.
Contoh lainnya terjadi pada diri saya, saat saya menonton anime Sword Art Online: Alicization. Dalam sebuah scene saat Kirito dan Eugeo sedang bersama kedua juniornya di lahan terbuka. Juniornya memiliki teman yang sedang mendapat masalah pelecehan oleh kelas elit berengseks!

Maksud dari kata-kata dalam gambar di atas adalah mempertimbangkan keberadaan hukum dengan keadilan. Karena seringkali diterapkannya hukum yang mengkhianati keadilan dan hanya dibuat untuk kepentingan penguasa. Hal ini membuat saya sadar bahwa kita sebagai manusia tidak boleh selalu tunduk kepada hukum, kita harus melawannya disaat hukum itu mengkhianati keadilan dan kemanusiaan! Hal-hal dalam anime seperti ini dapat menjadi propaganda untuk melawan penguasa tiran dan menumbangkan segala kekuasaan yang bersifat absolut.

Scene di atas juga dapat menjadi penekan kontrol sosial bagi penguasa untuk bersikap adil terhadap masyarakat yang kehidupannya dicuri oleh sistem yang menindas. Jika kita benar-benar memahami kata di atas, maka kita akan sadar bahwa penguasa/kaum bangsawan haruslah bersikap seperti itu, jika tidak, maka kita harus menekan bahkan melawannya.
Masih banyak scene anime yang dapat menjadi sarana agitasi, propaganda, dan kontrol sosial. Tapi akan terlalu banyak dan saya sebagai penulis sudah mulai malas untuk melanjutkannya. Saya anjurkan kalian mendalami setiap anime secara mandiri.
Dengan hal-hal di atas, sudah cukup membuktikan bahwa anime dapat menjadi alat untuk propaganda dan sumber dari sebuah pemikiran baru. Hanya saja masih sedikit yang sadar dan mungkin belum ada pengarang cerita anime yang memang mempunyai tujuan seperti itu.
Mungkin jika semakin berengseknya sistem kapital yang terus menindas, akan mulai gencar anime-anime yang menyerukan perlawanan, baik secara tersurat maupun tersirat. Kita tunggu saja, ya, kamerad wibu bau bawang molotov cocktail.
